100 HARI DALAM SUNYI

               Sore menjelang ketika kakinya melangkah pulang.  Mendung yang menggantung di langit senja menambah kesuraman sore itu. Pemakaman itu begitu sepi. Hanya seorang wanita tua sang penjaga makam dengan sapu lidi kesayangannya, dan burung-burung pipit yang berseliweran ditingkahi angin sore yang dingin membuat suasanan makam itu begitu mengiris hati.

               Sudah sepuluh langkah ia berlalu dari pintu makam. Kepalanya menengok, seolah tak rela meninggalkan kekasihnya terbujur berkalang tanah sendirian. Ia berhenti sebentar, mulutnya bergerak,”aku pulang dulu sayang, aku janji besok aku pasti kembali. Jangan sedih, kesendirianmu takkan lama,”ucapnya lirih. Jemarinya yang mungil membenahi kerudung hitamnya yang terluruh oleh angin. Perlahan ditinggalkannya makam itu. Sang penjaga makam memandang trenyuh dari kejauhan. Diusapnya dadanya yang keriput.

                Sejak kekasihnya meninggal , Laras, wanita muda berhati lembut itu  tak pernah melepas kerudung hitamnya. Kesedihan itu begitu dalam melukai hatinya.  Seluruh pengharapannya hancur hanya dalam sekejap. Sebuah pesta pernikahan yang agung dan sakral yang telah disiapkan berbulan-bulan sebelumnya, berganti dengan upacara pemakaman yang penuh dengan derai air mata.

               Pesawat yang ditumpangi kekasihnya meledak dan tenggelam di samudra yang luas.  Semua media memberitakan tak ada penumpang yang selamat. Jasad-jasad yang ditemukan pun sudah susah dikenali karena terbakar dan sebagian sudah menjadi santapan makhluk laut.

              Dengan perasaan hancur luluh Laras dan ibunya tertatih-tatih meneliti setiap mayat yang terbujur kaku di rumah sakit itu. Tak satupun ditemukan. Sejentik harapan di hatinya, kekasih yang sangat dicintainya itu tidak turut serta menjadi mayat. Dan rancangan hidup yang indah itu bisa menjadi nyata. Tapi harapannya membentur batu. Menguap bersama angin. Saat ujung sepatunya tak sengaja menyentuh tangan sesosok mayat yang terbujur kaku disitu. Sekujur tubuh mayat itu hangus..hitam legam. Wajahnya tak lagi bisa dikenali. Tapi ada yang bersinar di sela-sela jari mayat itu. Sebuah cincin. cincin itu tak ikut hangus terbakar. Kilauannya membias diantara kepingan-kepingan tubuh yang terbakar.

              Laras berjongkok di dekat mayat itu. Tangisnya telah tertelan.  Tak sanggup lagi ia bersuara. Hanya air mata yang terus mengucur dari matanya yang sayu. Tubuhnya bergetar hebat…lalu limbung. Seiring dengan limbungnya semua mimpi indah….semua rencana hebat dalam hidupnya. Dan kekelaman itu begitu nyata terlihat di depan matanya.

             “Laras….kau ke makam lagi?” Ibu mencegatnya di depan pintu rumah. Laras mengangguk. “Sudahlah Nak…untuk apa kau tiap hari kesana. Yang pergi takkan pernah kembali. Yang terkubur telah mati, tak mungkin hidup lagi,” Ibu meraih Laras dalam pelukannya. Tapi gadis itu hanya diam. dingin. tatap matanya kosong.

                       Perlahan airmatanya jatuh tak tertahan. Tapi bibirnya terkatup rapat. Ya, jasadnya telah mati, terbujur kaku disana, tapi dia tetap hidup dalam hatiku Ibu, keluhnya dalam hati. Wangi nafasnya masih tercium di hidungku saat di kecupnya pipi dan keningku di bandara itu. Hangat pelukannya masih kurasakan hingga kini. Lambaian tangannya masih begitu nyata di mataku. Bagaimana mungkin kupercaya ia telah mati? Dia hanya tidur sebentar disana untuk kemudian bangun dan membangunkan semua mimpi – mimpi indah itu.

              Laras melepaskan pelukan ibunya. Kakinya melangkah gontai menuju kamar tidurnya. Ibu yang telah renta itu hanya mampu tergugu menatap putri kesayangannya hidup dalam kematian kekasihnya. Betapa ingin ia menolongnya, menariknya dengan kuat dari lorong kesedihan itu, tapi bagaimana caranya? Ia sungguh tak kuasa dengan takdir Tuhan yang ditimpakan kepada putrinya.

               Malam terus merambat berganti siang. Berganti dengan hari baru. Namun tidak bagi Laras.  Malam terus bersambung dengan malam berikutnya..kekelaman itu bagai episode yang tak tahu kapan akhirnya. Dan ia terperangkap dalam kesesakan hati. Kerinduan yang bergulung-gulung disanubari. Mimpi-mimpi indah yang berubah menjadi mimpi buruk.

               Hari ini jelang seratus hari sejak kematian kekasihnya. Nanti malam akan digelar tahlilan di rumah Laras. Mengenang sekaligus mendoakan Radith sang kekasih. Para kerabat sudah berdatangan sedari pagi. Menyiapkan tempat, konsumsi dan bingkisan untuk para tetamu yang akan mengaji. Semua orang sibuk. Tapi dimana Laras?

               Diantara riuh orang-orang yang  menyiapkan hajatan, dia menyendiri di kamarnya yang sepi. Dingin. Foto Radith didekapnya erat. Tenanglah sayang, kau takkan lagi sendiri, bisiknya pada foto itu. Wajah di foto itu diciuminya berkali-kali. Sesekali Laras terlihat seperti ber bicara sendiri pada foto itu. Bibirnya tersenyum bahkan tertawa kecil. Seolah-olah foto dihadapannya hidup dan merespon semua perkataannya.

                     Selepas isya para tetamu sudah mulai berdatangan. Para kerabat dan tetangga datang memenuhi undangan tahlilan. Keluarga Laras sibuk menyiapkan semua yang diperlukan. Laras terlihat sangat cantik malam itu. Setelan baju muslim berwarna putih dengan hiasan bordir bunga-bunga kecil berwarna lembut di pinggir membuat Laras terlihat sangat anggun. Lipstik pink lembut menghias bibirnya yang tipis. Sungguh Laras terlihat seperti dewi dengan keanggunan yang tiada taranya. Senyum tak lepas dari bibirnya saat menerima salam dari para tetamu yang hadir.

                            Doa-doa tahlil pun mengalun memecah sunyi malam. Semua orang larut dalam kepungan doa. Tangan-tangan tengadah memohonkan ampun untuk Radith dan memohonkan tempat yang layak dan lapang disisinya.     Mata-mata terpejam menghayati setiap doa yang terlantun. Ketika semua orang terhanyut dalam nyanyian doa…tampak bayangan putih berkelebat-kelebat diantara gelapnya malam. Sesosok bayangan perempuan. Kakinya telanjang berlarilari kecil. Rambutnya yang panjang tergerai berkibar-kibar ditingkahi angin malam yang bertiup pelan. Nafasnya memburu. Tangan kirinya memegang tas kecil entah apa isinya.

                      Sampai di depan makam langkahnya terhenti. Matanya tak lepas tertuju pada makam bertuliskan Radith Hastitama. Nafasnya terengah namun kemudian terdengar pelan dan teratur. Perlahan dihampirinya makam itu. Ia berjongkok. Airmata mengalir dari matanya yang bening. Aku datang kekasihku, bisiknya pada makam itu. Aku penuhi janjiku. Lihatlah betapa kesetiaan ini hanya untukmu. Akan kuhapus sepi dan dinginmu. Sepi dan dinginku. Kesakitan itu akan berakhir malam ini. Nisan itu dipeluknya. Seolah tak ingin dilepaskna. Aku akan datang, tunggulah. Pakailah pakaian yang bagus. harumi tubuhmu dan kita akan terbang bersama ke langit dan tak ada satupun yang bisa pisahkan kita lagi. Laras terus brkata-kata pada nisan itu.  Entah rencana apa yang bersemayam pada otaknya. Jemari tangan kirinya tampak membuka tas kecil yang dibawanya tadi. Diambilnya botol kaca kecil di dalam tas itu. Ia buka tutupnya dan sekali teguk, semua cairan di botol itu berpindah ke tubuhnya. Hanya sebentar tubuh perempuan lara itu mengejang untuk kemudian limbung tertelungkup di atas nisan kekasihnya. 100 hari dalam sunyi benar-benar membuatnya tersiksa. Dan malam ini, di malam ke 100 sejak kekasihnya pergi..ia akhiri siksaan itu.

 

 

Jogjakarta, Gamping, 1 Mei 2009

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.